Kisah dalam bahasa disebut al-qashash yang artinya menelusuri jejak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.” (Al-Kahfi: 64)
Ayat ini menceritakan tentang Nabi Musa AS dengan pembantunya dalam
perjalanan studi ilmiyah mereka. Keduanya menelusuri jejak yang dilalui
sebelumnya dalam pencarian Khidir untuk menimba ilmu yang dianugerahkan
Allah kepadanya.
Qashashul Qur`an (kisah-kisah Al-Qur’an) adalah berita tentang keadaan
umat-umat yang telah berlalu, dan berbagai peristiwa yang telah terjadi.
Al-Qur’an menceritakan tentang kejadian-kejadian yang mempunyai
beberapa tahapan, di mana sebagiannya mengikuti yang lain. Allah selalu
menganugerahkan hikmah dibalik seluruh perbuatan-Nya dan Dia tak akan
pernah membuat suatu hal dengan sia-sia.
Kisah-kisah al-Qur`an adalah kisah yang paling benar dan jujur. Hal ini
ditegaskan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam firman-Nya:
“Dan siapakah yang lebih benar perkataan (nya) daripada Allah.” (An-Nisa`: 87)
Disamping itu ia juga merupakan kisah yang paling baik, paling
bermanfaat, paling kaya makna dan sarat nilai mulia bagi manusia. Allah
Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
“Kami menceriterakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur`an ini kepadamu.” (Yusuf: 3)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
Ada beberapa macam kisah yang dapat ditemukan dalam Alquran. Macam-macam kisah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
- Kisah tentang peristiwa yang ghaib, baik pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang. Yang dimaksud dengan ghaib di sini adalah kisah yang tidak bisa dinalar dengan panca indera.
- Kisah yang benar-benar terjadi yakni kisah yang benar-benar terjadi pada masa lampau agar manusia dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut.
- Kisah yang bersifat simbolik . Yakni peristiwa yang pernah terjadi pada suatu masa di suatu tempat tertentu yang ditamsilkan.
- Kisah historis yakni kisah yang bernuansa historis dengan menggunakan masa atau kisah-kisah yang bersifat kesejarahan yang mengetengahkan tokoh-tokoh dan tempat masanya.
Tujuan dan Faedah Kisah Al-Qur’an
Dari beberapa literatur, dapat disimpulkan bahwa kisah-kisah Alquran bertujuan untuk:
1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah dan pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi.
2. Menguatkan hati nabi Muhammad dan memperkuat keyakinan kaum mukminin.
3. Mengabadikan jejak para nabi terdahulu.
4. Membuktikan kebenaran informasi yang berasal dari nabi Muhammad.
5. Menarik minat pembaca.
6. Menjelaskan tentang kerasulan kepada ummat.
7. meringankan beban jiwa nabi Muhammad dan para pengikutnya.
8. Menumbuhkan kepercayaan diri dan ketentraman.
9. Membuktikan kerasulan Muhammad saw dan mu’jizatnya.
Sehingga kisah-kisah Al-Qur`an mengandung banyak manfaat dan faedah bagi manusia, di antaranya:
1. Menjelaskan landasan dasar (asas) dakwah dan pokok-pokok (ushul) syariat.
Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan
Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku’.” (Al-Anbiya`: 25)
2. Meneguhkan hati Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam dan umat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah
kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini
telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)
3. Membenarkan para nabi sebelumnya, menghidupkan nama serta melestarikan jejak mereka.
4. Menonjolkan kebenaran/kejujuran Nabi Muhammad dalam dakwahnya
melalui berita yang beliau sampaikan tentang keadaan masa lalu seiring
perjalanan masa dan generasi.
5. Menyingkap kedustaan Ahli Kitab, misalnya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang
diharamkan oleh Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat
diturunkan. Katakanlah: ‘(Jika kamu mengatakan ada makanan yang
diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah
dia jika kamu orang-orang yang benar’.” (Ali ‘Imran: 93)
6. pembentukan dan penggemblengan adab yang harus diperhatikan dan
pelajaran-pelajarannya tertanam kuat di dalam jiwa. Firman Allah
Subhanahu Wa Ta’ala:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)
7. Menjelaskan hikmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di
dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran), itulah suatu hikmah yang
sempurna maka peringatan-peringatan itu tiada berguna (bagi mereka).”
(Al-Qamar: 4-5)
8. Menerangkan keadilan Allah, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya
diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada
mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab
Rabbmu datang.” (Hud: 101)
9. Menerangkan karunia Allah, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah mengembuskan kepada mereka angin yang membawa
batu-batu (yang menimpa mereka). Kecuali keluarga Luth. Mereka Kami
selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami.
Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(Al-Qamar: 34-35)
10. Sebagai hiburan bagi Nabi Shalallahu ‘alaihi, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya orang-orang yang
sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasulnya); kepada mereka telah
datang rasul-rasulnya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan
kitab yang memberi penjelasan yang sempurna. Kemudian Aku adzab
orang-orang yang kafir; maka (lihatlah) bagaimana (hebatnya) akibat
kemurkaan-Ku.” (Fathir: 25-26)
11. Membangkitkan semangat dan rasa antusias kaum mukminin terhadap
keimanan dengan meneguhkan mereka di atasnya. Sebagaimana firman Allah
Subhanahu Wa Ta’ala:
“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari
kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”
(Al-Anbiya`: 88)
12. Memperingatkan orang-orang kafir agar tidak terus-menerus
tenggelam dalam kekafirannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa
Ta’ala:
“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga
mereka dapat memerhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum
mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang
kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.” (Muhammad: 10)
13. Mengakui keberadaan risalah Nabi Muhammad, karena berita-berita
tentang umat-umat sebelumnya tidak ada yang tahu kecuali Allah,
sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang
Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan
tidak (pula) kaummu sebelum ini.” (Hud: 49)
14. Penjelasan tentang sunnatullah pada makhluk-Nya, baik secara individu, maupun kelompok.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah
kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini
telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi
orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)
Semoga kita dapat memetik dan menyelami hikmah dari kisah-kisah Al-Qur’an, amin.